MENGISI HARI LIBUR DENGAN BERJUALAN ONLINE DI JEPANG

MENGISI HARI LIBUR DENGAN BERJUALAN ONLINE DI JEPANG

Mengisi waktu libur dengan berjualan online di Jepang memang sangat mengasyikan. Selain bisa menambah pundi-pundi yen untuk bekal pulang ke Indonesia, berjualan di Jepang juga bisa menambah relasi kita dengan orang lain. Banyak lika-liku yang saya alami ketika 3 tahun berjualan di Jepang. Untung-rugi puluhan juta rupiah pun pernah saya rasakan.

Menurut data KBRI, jumlah WNI di Jepang tahun 2013 ada sekitar 20.000 jiwa. Jumlah yang cukup banyak dan tentunya potensial sebagai lahan bisnis. Melihat hal itu, saya yang memang sejak kecil biasa berjualan mendapat ide untuk mencari peluang usaha yang bisa menambah penghasilan sehari-hari.

Awal mula berjualan yaitu pada bulan Mei 2013 ketika saya baru 1 bulan menginjakkan kaki di Jepang. Saya yang saat itu masih lugu dan belum tahu apa-apa mencari info apa saja yang bisa dijual kepada WNI di Jepang. Lalu teman memperkenalkan saya kepada seseorang yang berjualan pulsa VoIP bernama Kang Ali yang tinggal di daerah Prefektur Toyama.

Jualan Pulsa VoIP

VoIP adalah kependerkan dari Voice Over Internet Protocol adalah sebuah teknologi yang memungkinan seseorang melakukan percakapan jarak jauh melalui internet. Sederhananya adalah aplikasi yang digunakan untuk menelepon. Biasanya WNI disana menggunakan VoIP ini sebagai sarana untuk menghubungi sanak saudara di Indonesia. Meskipun ketika itu ada juga yang menelepon menggunakan Facebook atau Line, saya optimis ada peluang yang bisa diambil dari bisnis VoIP ini.

Karena masih awam tentang cara jualan di Jepang ditambah rekening bank juga belum ada, saat itu saya hanya menjadi reseller dari Kang Ali. Jangkauan penjualan pun hanya sebatas kepada teman serumah yang saya kenal. Setiap 1 voucher yang terjual Kang Ali memberikan komisi 100-200 yen dan dalam sebulan saya hanya bisa menjual tidak lebih dari 20 voucher saja.

Pekerjaan sebagai reseller ini saya jalankan selama 2 bulan. Meskipun profit yang dihasilkan tidak banyak, selama 2 bulan itu saya banyak bertanya kepada Kang Ali mengenai cara jualan di Jepang. Sejak saat itu juga saya mendapat banyak kawan dan kenalan sesama pedagang online di Jepang dan mulai mencoba menjual VoIP sendiri tanpa melalui Kang Ali.

Jualan Alat Elektronik

Tak puas hanya menjual satu produk, setelah mempunyai pelanggan tetap pulsa VoIP yang rutin membeli seminggu sekali. Bulan Juli 2013 saya mencoba menjadi reseller penjualan alat-alat elektronik seperti Laptop, Handphone, dan Pocket Wi-Fi. Kebetulan saya mempunyai kenalan WNI asal Padang yang sudah menetap di Jepang bernama Mbak Nova yang tinggal dan bekerja di daerah Tokyo.

Mbak Nova menjanjikan setiap produk yang terjual akan diberikan komisi sebesar 3000-5000 yen. Cukup besar untuk ukuran saya yang waktu itu masih belum tahu apa-apa. Order pertama saya waktu itu adalah Samsung SIII yang dibeli oleh Mas Bayu di daerah Toyokawa, Prefektur Aichi. Selanjutnya orderan pun terus mengalir baik order Handphone, Laptop, dan lain-lain.

Sampai pada akhir tahun 2013 saya memutuskan berhenti berjualan alat elektronik karena banyak komplain dari pelanggan atas keterlambatan barang dari Mbak Nova. Akhirnya saya mencoba mencari usaha lain agar terus mendapat penghasilan tambahan.

Jualan Rokok Indonesia

Hampir sebagian besar WNI perokok tidak menyukai rokok merek Jepang karena katanya rasanya tidak se-enak rokok Indonesia. Selain itu, rokok Jepang harganya 400-500 yen per bungkus atau lebih mahal dari rokok Indonesia yang dijual di Jepang yaitu 350-400 yen setiap bungkusnya.

ditambah dengan berbagai peraturan ketat pemerintah Jepang kepada perokok salah satunya tidak diperbolehkan merokok sebelum berumur 20 tahun membuat WNI mencari alternatif membeli rokok Indonesia kembali. Namun penjual rokok Indonesia sangat jarang karena rokok merupakan barang cukai yang perdagangannya harus sesuai prosedur yang berlaku di Jepang.

Pertama kali berjualan rokok di Jepang bermula ketika perkenalan saya dengan Kang Cucu, pemagang asal Bandung yang bekerja di Prefektur Gunma pada Agustus 2013. Keuntungan berjualan rokok yang menggiurkan membuat saya tertarik untuk menggelutinya juga. Kembali saya memulainya sebagai reseller dengan keuntungan 500 yen setiap 1 slop rokok yang terjual.

Benar saja, permintaan rokok sangat tinggi di pasaran. Cukup dengan sekali promosi, pembeli pun berdatangan meng-inbox kepada saya untuk memesan berbagai jenis rokok yang saya jual. Tapi stok rokok yang ada tidak sesuai dengan banyaknya permintaan pasar membuat calon pembeli banyak yang tidak kebagian.

Awal 2014 tepatnya bulan Februari saya sudah tidak menjadi reseller Kang Cucu dan memulai berjualan rokok sendiri agar mendapat untung yang lebih besar. Menjual lebih dari 10 jenis rokok Indonesia dengan harga lebih murah dibanding penjual yang lain, dalam sebulan saya bisa menjual lebih dari 100 slop rokok.

Ketika itu saya mematok harga hanya 3000 yen saja per slop dan sudah termasuk free shipping ke seluruh Jepang. Omset yang didapat per bulan adalah sekitar 50 juta rupiah, jauh diatas penghasilan utama saya sebagai pekerja di Jepang.

Sayang, ketika sedang asyik berjualan rokok, ditengah permintaan yang terus meningkat, usaha ini harus berhenti di tengah jalan karena ada sesuatu hal. Akhirnya sayapun mendapat penghasilan dari berjualan VoIP saja yang menjadi usaha abadi saya selama 3 tahun di Jepang.  Pernah juga saya harus menanggung resiko membayar denda bea & cukai rokok sebesar kurang lebih 20 juta rupiah kepada pemerintah Jepang karena prosedur pengiriman yang salah.

Jualan Jersey Bola

Jiwa dagang di dalam diri saya ini memang tak bisa ditahan, meskipun di tengah kesibukkan bekerja dan belajar Bahasa Jepang, Rasanya tangan ini gatal ingin sekali mengolah suatu barang menjadi uang. Bulan Juni 2014 saya mencoba peruntungan berjualan jersey bola dengan membuat brand Tokyo Djerseyland

Tokyo Djerseyland adalah pelesetan dari Tokyo Disneyland sebuah taman bermain terkenal di Jepang. Hampir semua WNI di Jepang yang rata-rata adalah pemagang dan pelajar pasti pernah berkunjung ke Tokyo Disneyland ini. Saya berharap dengan memakai brand ini semua orang bisa cepat mengingatnya dan penjualan pun bisa laris.

Berkat strategi yang saya gunakan dan penawaran-penawaran yang menarik, jersey yang saya jual ini laku keras. Biasanya buyer membeli jersey dengan nameset (nama dan nomor punggung sesuai keinginan) atau jersey team untuk klub futsalnya.

Setiap hari setelah pulang kerja atau ketika hari libur sabtu dan minggu saya rutin membalas chat para konsumen, packing barang dan mengirimnya ke kantor pos atau minimarket terdekat. Meskipun capek, tapi saya semangat melakukan ini semua karena demi cita-cita dan keluarga di Indonesia.

Dalam seminggu rata-rata bisa menjual 20-30 pieces jersey dengan harga 2500-3000 yen/pieces. Diantara usaha yang pernah saya geluti, Berjualan jersey ini yang paling lama saya lakukan yaitu sekitar setahun. Tentunya dengan berbagai rintangan dan masalah karena tak selamanya usaha berjalan mulus.

Pada Mei 2015 iseng-iseng saya mencoba berpartisipasi dengan cara menjadi sponsor di acara Tabligh Akbar 2015 yang diadakan IPTIJ (Ikatan Persaudaraan Trainee Indonesia di Jepang) di Prefektur Mie. Saat itu saya diwajibkan membayar donasi sebesar yang ditentukan dan menuliskan deskripsi usaha yang digeluti. Singkat cerita, Nama Tokyo Djerseyland pun bersanding dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Perusahaan telekomunikasi Brastel, Kyodai, Exata, dan lain-lain.

Jualan Buku Pelajaran Bahasa Jepang

Tahun terakhir sebelum kepulangan ke Indonesia, saya mencoba menjual buku-buku pelajaran Bahasa Jepang terbitan Gakushudo. Jadi ketika itu saya menjual 3 produk bersamaan yaitu pulsa VoIP, jersey bola, dan buku. Bisa anda bayangkan sibuknya saya ketika itu. Saya lupa bahwa di Jepang ini saya adalah seorang pekerja yang bekerja 12 jam sehari.

Pulang bekerja sekitar pukul 10 malam saya harus melanjutkan pekerjaan saya membalas keluhan atau pertanyaan para konsumen, mempacking barang, bahkan mengirimnya langsung melalui minimarket Lawson. Ketika musim dingin tantangan semakin besar karena saya harus menahan dingin dan guyuran salju ketika pergi mengirimkan barang.

Keuntungan yang didapat dari berjualan buku ini lumayan besar yaitu sekitar 1000 yen setiap pcs yang terjual. Karena tak dapat memegang semuanya, akhirnya dari ketiga usaha itu harus ada yang dikorbankan salah satu, maka saya putuskan berhenti berjualan jersey karena ada beberapa kendala dan masalah saat berjualan jersey.

Kesimpulan

Berjualan itu bisa dilakukan dimana saja, jika punya tekad dan keinginan yang kuat dengan segala keterbatasan yang adapun kita pasti mampu melakukannya. Carilah peluang dan gali peluang itu hingga dapat menghasilkan apa yang anda inginkan. Demikian cerita saya kali ini, semoga dapat menginspirasi bagi semua.

Back To Top